Belum Diizinkan Beroperasi

Belum Diizinkan Beroperasi

Belum Diizinkan Beroperasi

Belum Diizinkan Beroperasi, – Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin mengungkapkan pihaknya membutuhkan insentif dari pemerintah untuk bertahan di tengah pandemik COVID-19. Sebab merebaknya virus Corona membuat pengusaha layar lebar tak bisa beroperasi.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum memberi izin untuk buka kembali. Lima bulan sudah bioskop tak beroperasi akibat pandemik COVID-19. Masih tutupnya layar lebar di ibu kota membuat bioskop di daerah kena imbasnya karena tak mendapat suplai film.

“Nunggu Jakarta dibuka. Jakarta izinin, baru disuplai film ke seluruh Indonesia,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin, Senin.

Bioskop di daerah sendiri sudah mendapatkan izin beroperasi. Mereka pun mencoba beroperasi hanya dengan mengandalkan film-film lokal. Tapi hasilnya tak optimal dan hanya memberi napas sementara.

“Satu kan ada di Kendari. Kendari itu kan sudah dicoba tanggal 7 Juli tuh, tutup akhirnya kan. Baru buka lagi kemarin 2 hari ada film lokal tuh. Itu tak lama juga umurnya tutup lagi nanti,” sebutnya.

Menurutnya agar pengusaha bioskop dapat terus beroperasi butuh banyak suplai film yang terdiri dari produksi nasional maupun luar negeri.

Pihaknya pun tidak diam saja. Dia mengatakan sudah berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta agar bioskop bisa beroperasi kembali. Dia mencatat bioskop sudah tutup sejak akhir Maret yang artinya sudah berjalan 5 bulan. Tak dapat disangkal itu membuat mereka rugi.

“Ya sudah pasti rugi lah, sudah rugi lah. Cuma kalau kita teriak rugi kan orang juga banyak yang rugi dari kita ya. Kita gentle saja lah, rugi sih pasti,” sebutnya.

Rahasiakan Nilai Kerugian

Pihaknya pun tetap harus menanggung tagihan listrik yang nilainya tidaklah kecil meskipun bioskop tak beroperasi. Biaya abonemen yang harus ditanggung untuk satu bioskop sekitar Rp 10-15 juta. Jika listrik tak dibayar maka akan dicabut oleh PLN.

“Iya kalau tak (dibayar) listriknya akan dicabut, bayarnya ratusan juta lagi pasang yang baru ya kan. Itu abonemennya saja tuh. Itu baru (bioskop) yang independen lho. Kalau yang XXI kan lebih gede lagi listriknya. Itu satu,” ujarnya.

Belum lagi pihaknya harus tetap membayar pegawai meskipun tak mendapatkan pemasukan akibat tutupnya bioskop. Ditambah perawatan bioskop harus tetap dijalankan secara rutin.

“Kondisi fisik kita jaga karena biar bagaimanapun gitu kan harta kita, kita jaga dong memang kita harus rawat. Kita ada petugas cleaning service, petugas operator, proyektor mesti dihidupin setengah jam atau berapa, setiap hari dipanasin,” jelas Djonny.

Namun untuk nilai kerugian seluruh bioskop di Indonesia selama tutup 5 bulan ini, dirinya tak bisa menyebutkan angkanya karena layar lebar merupakan bisnis yang sifatnya tertutup sehingga dapur keuangannya dirahasiakan oleh masing-masing pemiliknya.

Comments are closed.