Pengusaha Ritel Klaim Rugi Rp200 Triliun Karena PSBB

Pengusaha Ritel Klaim Rugi Rp200 Triliun Karena PSBB

Pengusaha Ritel Klaim Rugi Rp200 Triliun Karena PSBB

Pengusaha Ritel Klaim Rugi Rp200 Triliun Karena PSBB, – Pengusaha ritel memperkirakan pandemi virus corona belakangan ini menimbulkan kerugian hingga Rp200 triliun kepada mereka.

Kerugian ini dipicu penurunan omzet secara tajam selama masa pandemi lantaran pandemi membuat kunjungan ke pusat perbelanjaan merosot.

“Kalau angka, kami itu setahun sekitar Rp400 triliun. Kalau pun hanya 50 persen (yang operasional) ya omzetnya turun Rp200 triliun, ya kerugiannya di situ. Tapi kan biayanya gak bisa utuh,” kata Budi dalam webinar, Senin.

1. Sebab penurunan omzet

Dilansir dari IDNPlay Poker, Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan penurunan omzet terjadi karena kunjungan yang turun drastis.

Masyarakat masih khawatir dengan virus corona. Kedua adalah faktor merosotnya daya belu masyarakat.

“Khusus DKI, pada saat ini ditambah dua faktor lagi yakni pembatasan di mana-mana. Ditambah lagi restoran dan kafe tidak boleh melayani makan di tempat,” kata Alphonzus.

2. Biaya operasional tidak menutup

Padahal, menurut Alphonzus, restoran dan kafe menjadi destinasi utama ketika masyarakat mengunjungi mal. Terlebih tidak semua makanan dan minuman bisa dipesan dan dibawa pulang atau take away.

Para penyewa yang berkecimpung di sektor food and beverages (FnB) atau makanan dan minuman akhirnya memilih menutup usaha mereka.

“Sementara kalau dipaksakan pun, biaya pendapatan tidak bisa menutup biaya operasional. Ini yang cukup mengkhawatirkan karena terpaksa merumahkan karyawan,” ujarnya.

3. Nasib para karyawan di pusat perbelanjaan

Budi menyebut ada sekitar 1,5 juta tenaga kerja di pusat perbelanjaan yang terpaksa dirumahkan atau berkurang pendapatannya. Angka ini adalah setengah dari total pegawai pusat perbelanjaan yang jumlahnya mencapai tiga juta orang.

“Kalau dirumahkan itu kita anggap satu shift. Karena kan biasanya dua shift. Kita belum ada detail. Tapi kita kemarin sudah dapat angka dari anggota, tapi baru sampai di angka 100 ribu pegawai yang berpotensi.

Datanya belum lengkap, hanya dari 90 perusahaan yang melaporkan. Itu akan terjadi kemungkinan dirumahkan atau shifting alias berkurang pendapatannya,” kata Budi memaparkan.

Comments are closed.